PENCITRAAN

Dunia Pencitraan bukan lagi milik dunia para Artis, tetapi sudah merambah ke dunia politik & pemerintahan sejak era rejim SBY.
Bedanya antara periode rejim terdahulu dengan periode rejim saat ini terletak pada besaran (magnitude), ‘manajemen’ gerakan serta ketersediaan akses internet & mobile data. Ketiganya saling terkait.
Perbedaan lainnya adalah pada rejim terdahulu aktor & peran pembantunya menyatu ke satu sosok, sementara pada rejim hari ini aktor-nya satu tetapi peran pembantunya ada di setiap tingkatan dan lini. Salah satu ukuran kinerjanya pun dilakukan dengan menggunakan “Trending Topic”.

Sementara itu kesamaan yang dimiliki kedua rejim adalah tingkat kebodohan (kemiskinan) masyarakat yang masih tinggi sehingga masih cukup mudah untuk ‘digiring’ dengan retorika, uang dan ‘peluang’.

Peran media, khususnya media online, baik itu mainstream media maupun media online ‘pinggiran’ pun sangat besar. Apalagi kalau judul beritanya cukup provokatif untuk membangkitkan semangat militansi perjuangan kelompok, baik itu kelompok pendukung pemerintah maupun kelompok oposisi.

Tanpa kita sadari atmosfir Pencitraan telah menenggelamkan berbagai isu kritis yang seharusnya menjadi perhatian khusus bagi setiap kelompok.
Isu Hak Asasi Manusia di Papua, Isu Kemiskinan & Ketertinggalan di Indonesia Timur, Isu Daya Saing Bangsa yang semakin menurun dan berbagai isu kritis lainnya.

Tanpa sadar sebagian besar publik telah menyerahkan akal sehatnya untuk diperdaya oleh isu-isu populer yang digulirkan untuk membentuk opini sesaat.

Benar bahwa Kebencian harus dilawan. Begitu juga SARA dan berbagai isu lainnya yang mengganggu persatuan dan kesatuan bangsa. Tetapi selama isu2 kritis seperti pelanggaran HAM, kemiskinan, ketidakadilan sosial & ekonomi masih merambah bebas di negara ini maka Kebencian, SARA dll hanyalah produk turunan dari isu2 kritis tersebut.

Kita harusnya lebih kritis dalam menanggapi berbagai isu yang beredar saat ini.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail