Ketika Daud Berhasil Mengecoh & Mengalahkan Goliath

elya muskitta

(Kegagalan Serangan Arab Saudi ke Yemen)

Pasukan Koalisi dibawah pimpinan Arab Saudi telah menggempur Yemen sejak bulan Maret 2015. Lebih dari 10.000 jiwa melayang (warga Yemen) akibat dari serangan Pasukan Koalisi Arab Saudi menurut data PBB.

Dari sisi persenjataan pasukan koalisi Arab Saudi yang didukung oleh Amerika Serikat jauh lebih canggih dan lebih banyak jumlahnya dibandingi dengan pasukan (pemberontak) Houti yang katanya memperoleh dukungan dari Iran.
Tidak tanggung-tanggung pasukan koalisi yang dipimpin Arab Saudi melibatkan:
1. Morokko: Mengirim 6 pesawat jet tempur
2. Mesir: mengirim 4 Kapal Perang & dukungan serangan udara
3. Sudan: mengirim 3 pesawat jet tempur
4. Yordania: mengirim 6 pesawat jet tempur
5. Kuwait: mengirim 15 pesawat jet tempur
6. Bahrain: mengirim 15 pesawat jet tempur
7. Qatar: mengirim 10 pesawat jet tempur
8. Unit Emirat Arab: mengirim 30 pesawat jet tempur
9. Pakistan: mengirim kapal perang & dukungan serangan udara
10. Arab Saudi: melibatkan 100 pesawat jet tempur dan 150.000 tentara.

Selain dukungan negara-negara di atas, pihak Arab Saudi juga meminta bantuan Israel dalam memerangi Yemen.
Israel mendukung Arab Saudi dengan mengirimkan pesawat Drone-nya ke Yemen. Lebih dari itu Israel juga melibatkan dinas rahasia-nya (Mossad) dan pasukan khususnya di garis depan pertempuran. Hal ini terungkap ketika seorang analist militer & politik Yemen, Hassan Al-Haifi, memberitakannya di media lokal.
Al-Haifi menyatakan bahwa serangan pihak pemberontak Houti terhadap basis pertahanan tentara koalisi Arab Saudi telah turut menewaskan Vegedora Yagronovesky, seorang Data Analyst dari Angkatan Darat Israel.

Yemen hanyalah sebuah negara miskin bila dibandingkan dengan Arab Saudi dan para negara koalisinya. Dengan segala keterbatasannya, Pasukan (pemberontak) Houti berhasil menggulingkan pemerintahan Yemen yang sah serta mengambil alih ibukota negara. Sementara pasukan koalisi Arab Saudi yang didukung oleh Amerika Serikat tidak berhasil mencapai kemenangan strategis sama sekali.
Keterlibatan Amerika Serikat ke dalam perang ini pun menjadi pertanyaan besar bagi banyak negara karena dalih yang mereka gunakan adalah pasukan pemberontak Houti berkoalisi dengan pasukan Al Qaeda. Suatu alasan yang sangat tidak masuk akal mengingat Houti adalah gerakan Syiah sementara Al Qaeda adalah gerakan Sunni.

Kejatuhan pemerintahan Yemen (pro Arab Saudi) menjadi ancaman besar bagi Arab Saudi karena kecemasan mereka akan masuknya pengaruh gerakan Houti ke dalam negara mereka.
Houti sendiri adalah gerakan politik beragama yang secara resmi bernama “Ansar Allah”. Gerakan ini dimulai dari wilayah Yemen Utara pada tahun 1990.
Asal muasal pemberontakan gerakan Houti ini karena mereka menentang pemerintahnya yang cenderung berpihak pada kaum Wahabi yang berasal dari Arab Saudi. Populasi kaum Syiah di Yemen berkisar antara 35-40% dari total populasi Yemen.

Rupanya Arab Saudi awalnya menganggap remeh kekuatan pasukan Houti dan berpikir bahwa peperangan dapat dimenangkan dalam waktu singkat. Sayangnya kenyataannya berbeda jauh, setelah hampir dua tahun perang berjalan tidak ada tanda-tanda kemenangan yang berarti bagi pasukan koalisi Arab Saudi.

Sementara itu perang Yemen telah mengganggu perekonomian Arab Saudi.
Pertumbuhan ekonomi negara kerajaan ini turun ke tingkat 1.4% (data 2016), tingkat terrendah sejak resesi ekonomi yang terjadi di negara kerajaan tersebut pada tahun 2009.
Perang Yemen juga membuat nilai asset Arab Saudi di luar negeri jatuh 200 Miliar Dollar Amerika selama dua tahun terakhir.

Terakhir, pemerintah Inggris dan Kanada pun membatalkan kerjasama perdagangan militer-nya dengan Arab Saudi karena mereka menentang serangan Arab Saudi atas Yemen.
Kemenangan pihak pemberontak Houti menjadi ancaman besar bagi keberlangsungan kerajaan Arab Saudi yang berlatarbelakang Wahabi.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail