Perdamaian Israel-Palestina Semakin Tak Menentu

muskitta[muskitta.com] Sejak dilantiknya Donald Trump sebagai presiden Amerika Serikat, telah terjadi banyak sekali perubahan pada politik Israel, khususnya dalam hal wilayah pendudukan dan pemukiman Yahudi yang berada di dalam wilayah pendudukan tersebut.

Dalam rapat kabinet hari Minggu 22 Januari 2017, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa dia hanya mau mengijinkan berdirinya negara Palestina dengan otoritas terbatas, salah satunya adalah tanpa kekuatan militer. Inilah yang Netanyahu namakan “State Minus”.
Pernyataan Netanyahu tersebut sekaligus untuk meredam tekanan beberapa anggota kabinet-nya yang menolak konsep Dua Negara, yaitu Israel & Palestina.

Menteri Pendidikan Israel, Naftali Bennett, selama ini menekan Perdana Menteri Israel untuk segera menjadikan sebagai wilayah Yudea-Samaria (Tepi Barat) sebagai wilayah permanen Israel, dan tidak lagi berstatus sebagai Wilayah Pendudukan.

Naftali Bennett, Menteri Pendidikan Israel

Sementara itu Ofir Akunis, Menteri Sains Israel, secara terbuka menyatakan penolakannya atas konsep Dua Negara. Padahal Ofir Akunis datang dari Partai Likud, partai yang sama dengan Benjamin Netanyahu.

Judea-Samaria

Salah satu wilayah Yudea-Samaria yang dalam waktu dekat akan dijadikan Wilayah Permanen Israel adalah Ma’ale Adumim.

Kota Ma’ale Adumim

Ma’ale Adumim adalah wilayah pemukiman Yahudi yang dibangun pada tahun 1970an.
Pada tahun 1977 Menachem Begin, Perdana Menteri Israel saat itu, menjadikan Ma’ale Adumim sebagai Wilayah Pemukiman permanen warga Yahudi. Sejak itu wilayah ini bertumbuh menjadi salah satu wilayah pemukiman Yahudi terbesar di Tepi Barat (West Bank).
Wilayah seluas sekitar 50 km2 ini berubah total menjadi kota satelit modern yang menghubungkan Tel Aviv dengan Yerusalem.
Sekolah Pendidikan Dasar dan Menengah terbaik di Israel pun berada di wilayah pemukiman ini.

Selain menjadikan Ma’ale Adumim sebagai wilayah permanent Israel, Pemerintah Israel juga memberikan legitimasi atas 566 rumah baru bagi warga Yahudi di Yerusalem Timur.
Pembangunan pemukiman Yahudi di Yerusalem Timur, khususnya di wilayah E1 selama ini menjadi isu kontroversial dan mendapatkan kecaman dari dunia internasional. Oleh karena itu pembangunan pemukiman Yahudi di wilayah E1 sempat dihentikan sejak tahun 2010.
Sejak pelantikan Donald Trump banyak kebijakan yang berubah, khususnya kebijakan tentang pembangunan wilayah pemukiman Yahudi di daerah ‘sengketa’ antara warga Palestina dan warga Yahudi seperti wilayah E1.

Penetapan Ma’ale Adumim sebagai wilayah permanent Israel dan pembangunan pemukiman Yahudi di wilayah E1 dapat menciptakan preseden baru bagi berbagai wilayah pemukiman Yahudi lainnya yang berada di dalam wilayah pendudukan Israel.

 

[this article is originally written by Elya G Muskitta for muskitta.com]


 

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail